Kamis, 12 Juni 2014

Prepare for The Trip

Agak excited nih ceritanya... Karena ini pertama kali pergi ke daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta sana pake mobil sendiri. Biasanya kan pake kereta, jadi gak ada celah buat udar-ider.

Yang kebayang sama saya itu kalo pergi keluar kota naik mobil sendiri pasti bisa nyempetin ke tempat-tempat wisata yang khas ataupun wisata kuliner. apalagi kalo kota yang dikunjungin itu gak ribet. Bisa kebayang tanpa nyasar. Ahhh..., sok jagoan nih... =))

Jadilah sebelum berangkat hari Jum'at nanti saya sibuk browsing wisata kuliner yang recommended. Ahhaayyy...

Dapet deh beberapa informasi yang menarik dan tentunya destinasi yang cukup menarik dikunjungi. Di antara celah acara keluarga, mari kita sempatkan untuk menoreh pengalaman baru dalam sejarah hidup ini. Cieeehhh.... Jangan lupa kamera tentunya, dan kipas wajib dibawa ke daerah panas seperti Semarang dan Yogyakarta. :D

Cerita selengkapnya perjalanan saya nanti, semoga bisa saya sharing juga di sini. Tunggu saja ya... Insyaa Allah.

 Semarang, I'm coming

Yogyakarta, I'm coming again and again

Kamis, 08 Mei 2014

Bangun Cinta

Kata pujangga cinta itu luka yang tertunda
Walau awalnya selalu indah
Bila bukan jodohnya siap-siap tuk terluka

Kata pujangga bangun cinta itu tak semudah
Tak secepat hati jatuh cinta
Namun bila jodohnya kita pasti bahagia

Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta
Jatuh itu sakit, bangun itu semangat
Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta
Meski tak mudah namun cinta jadi punya tujuan

Sampai kapan bermain cinta (bermain cinta)
Ku ingin bahagia tetap selamanya untukku...


Bangun Cinta by AMPM


Membaca lirik lagu ini sambil menyanyikannya.., (kayak yang suaranya bagus ajah...) mengingatkan saya dengan sepenggal quotes dari bukunya Ustadz Salim A. Fillah yang berjudul Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta. 

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga

Jatuh cinta? Tepatnya sih saya belum pahami jatuh cinta itu seperti apa. Kata orang sih jatuh cinta itu berjuta rasanya dan ketika ditinggalkan oleh orang yang udah bikin kita jatuh cinta bakalan patah hati. Nah patah hati itu kayak gimana ya? Rasanya blom paham juga. Selama ini sih klo suka sama seseorang dan kemudian orang itu menikah, rasanya ya biasa ajah. Turut bahagia malahan. Cuma sesekali aja kali ya merasa 'Koq bukan gw duluan ya...' =))

Saya juga bukan termasuk orang yang gampang punya rasa ama seseorang. Butuh usaha dari diri sendiri. So, bangun cinta rasanya tepat buat saya.

Bangun cinta itu tidak mudah klo kata AMPM. Bangun cinta itu butuh semangat untuk mencapai suatu tujuan, yaitu bahagia bersama jodoh kita selamanya.

Sedangkan menurut Salim A. Fillah, bangun cinta itu untuk menjadikan cinta kita menjadi istana yang bisa menggapai surga. Bahagia dunia-akhirat bersama jodoh kita.

Jatuh itu sakit. Berarti jatuh cinta itu sakit karena cinta ya... Apalagi jatuhnya bukan dengan seseorang yang 'seharusnya'. Bukan dengan seseorang yang Allah halalkan untuk kita. Sakiiittt... Cinta itu luka yang tertunda. Soalnya kita akan berharap dengan seseorang yang belum punya kewajiban untuk bisa kita harapkan. Siap jatuh cinta ya siap untuk terluka. Hayooo...

Jujur saya hanya ingin merasakan cinta itu satu kali. Membangun cinta dengan seseorang yang menjadi jodoh di dunia dan akhirat. Cinta yang dibangun atas dasar keyakinan bahwa inilah seseorang yang Allah pilihkan untuk saya. Seseorang yang mau bekerja sama membangun istana itu. Karena itu memang harus dibangun bersama.

Tidak selamanya lancar jaya itu pasti. Ada sedih, tangis, marah, kecewa, itu sangat mungkin. Itulah perjalanan membangun istana indah itu. Akan selalu dibutuhkan usaha, usaha bersama. Dan karena kebersamaan itulah pasti akan selalu ada senyum, tawa, haru, tangis bahagia sebagai pelipur hati dan jiwa.

Akan selalu ada jalan atas kehendak-NYA. Akan selalu terjadi atas skenario-NYA. 
Hanya pada Allah mampu bersandar agar tetap kuat diterjang badai seperti apapun.

In syaa Allah...


*setahun berlalu lantas apa... hanya Allah Yang Tahu kan...* 08052013-08052014

Rabu, 12 Februari 2014

My Old Man

A little bit story about my old man...

My old man it's only a man in my life right now. Posisinya belum diberikan Allah untuk tergantikan saat ini.

Seorang ayah akanlah selalu istimewa untuk putrinya. Akan ada sesuatu dari seorang pria yang ia pilih untuk menjadi pendampingnya kelak adalah inspirasi dari ayahnya. :)

Tapi kali ini, saya tidak akan bercerita tentang inspirasi untuk pendamping masa depan. Tetapi hanya bercerita tentang seorang ayah dan saya.

Ayah saya kini usianya telah 60 tahun. Terkesan tua ketika dilihat dari angka. Tapi jangan salah, ketika orang-orang melihatnya, orang-orang tidak akan menilai beliau setua itu. Selain memang mukanya yang terlihat lebih muda dari usianya, alias baby face, gayanya pun tidak terlihat tua. Di usia setelah masa pensiunnya, ayah saya masih gemar mengenakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak. Cukup stylish bukan?

Punya ayah yang terlihat 'berjiwa muda' sebenarnya cukup menyenangkan. Ayah kita tidak akan terkesan tua oleh permasalahan kita. Dengan kata lain tidak dibuat banyak pikiran. Terlihat menikmati hidupnya. 

Jalan berdua dengan ayah pun terkadang saya lakukan. Entah hanya untuk membeli sesuatu atau hanya ke suatu tempat. Sehubungan saya anak bungsu dan belum menikah, maka jika butuh sesuatu, ayah akan meminta saya untuk mengantarnya. Ataupun saya diantar oleh ayah saya.

Ketika berjalan hanya berdua dengan ayah saya, kadang terasa sedikit 'aneh' buat saya. Hal ini terkadang muncul dari cara pandang orang lain terhadap saya dan ayah saya. Seolah-olah mereka itu menerka-nerka saya itu anaknya atau istri mudanya. Menyebalkan.

Ketika berada di suatu toko yang pernah saya kunjungi bersama ayah saya, dan kebetulan saat itu ayah saya tidak ikut. Saya ditemani ibu saya saat itu. Tiba-tiba penjaga tokonya berkata, "Mbak, Aa-nya ga ikut?"

Saya sedikit terperangah dan berpikir Aa yang manakah itu. Ternyata ibu saya pun sedikit kaget dan berpikir dengan siapa saya pernah ke tempat ini.

"Ohh... Itu sih Aa-nya yang ini." Sahut saya begitu teringat pernah diantar siapa ke toko ini seraya menunjuk ibu saya.

"Ohh bapak..." Ibu saya berseloroh.

"Ohh bapaknya." Mbak penjaga toko berseloroh juga.

Saya jadi kepikiran setelah kejadian itu, apakah saya yang terlihat ketuaan. Soalnya usia saya dan ayah saya berbeda 30 tahun. Usia yang pas antara ayah dan anak. Tapi kenapa masih ada orang yang suka mengira-ngira tidak penting begitu. Toh, masih banyak yang suka mengira saya masih anak kuliahan. Hehehe...

Gara-gara beberapa peristiwa seperti di atas, saya jadi terpikir untuk mencari pendamping hidup yang tidak terlihat 'tua'. Simpel sih maksudnya, biar orang-orang ga ketuker mengira-ngira yang mana ayah saya, yang mana suami saya. Hehehe... ***




Senin, 10 Februari 2014

Masa Lalu, Sekarang, dan Akan Datang

Beberapa hari yang lalu, saya dan ibu terlibat dalam pembicaraan flashback. Kita membicarakan sesuatu yang terjadi beberapa tahun lalu dan lebih tepatnya bukan tentang saya sendiri.

Sebenarnya cerita ini lebih ke ibu dan kakak saya tentang seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan kakak saya. Sesosok pria ini punya masa lalu, masa lalu yang bisa dikatakan kurang baik. Meski itu hanya satu peristiwa.

Mungkin bagi sebagian keluarga yang lain, hal itu akan menjadi masalah untuk menerima sesorang menjadi menantunya. Tapi saya bersyukur, keluarga saya mempunyai kelapangan dalam melihat suatu peristiwa. Mereka tidak sebegitu saja menentang tetapi lebih mengembalikan pada yang menjalani.

Kalau menurut ibu saya, "Ga terlalu masalah lah masa lalunya seperti apa. Bagi ibu, yang penting sekarang dianya kayak gimana."

Hal ini saya terjemahkan dalam akun twitter dan status saya menjadi  :
 
Mom said: Seperti apapun masa lalunya, yang terpenting itu sekarang (dan akan datang) seperti apa.

Ya.., pada akhirnya ketika mereka tidak berjodoh ya bukan karena masa lalu itu tetapi lebih karena memang bukan jodohnya dan kebetulan ada sikap pria itu di masa sekarang yang kurang berkenan untuk orang tua saya.

Saya selalu percaya bahwa orang tua saya cukup bijaksana menilai seseorang. Tidak terlalu disibukkan dengan bibit, bebet, bobot tetapi lebih kepada sifat dan sikap yang bersangkutan. Lebih melihat apa yang terjadi sekarang, yang paling mungkin untuk mempengaruhi masa depannya dan masa depan kita juga.

Saya pribadi pun lebih melihat masa lalu itu sebagai kenangan, sebagai pembelajaran buat kita pribadi ataupun orang lain. Terkecuali masa lalu itu fatal dan akan sangat mempengaruhi untuk masa depan, maka akan perlu sebuah kajian dan diskusi mendalam.

Saya pribadi suka merasa kagum dan hormat terhadap seseorang yang akhirnya memilih hijrah pada jalan kebaikan. Memilih memperkuat iman dan takwa-nya meski harus meninggalkan sesuatu yang 'bergemerlapan' di masa lalunya. Ia mantap memilih yang lebih baik.

Setiap orang punya masa lalu masing-masing. Meskipun itu adalah pilihan masing-masing pribadi. Namun yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana menjadikannya pembelajaran. Bagaimana kita akan mengukir masa depan. Bersyukurlah ketika hal yang buruk itu kemudian Allah gantikan dengan sesuatu yang berkali-kali jauh lebih baik. Jagalah kebaikan itu.

Kalau menurut suatu pepatah, lebih baik jadi mantan penjahat daripada jadi mantan ustadz. ***




Kamis, 27 Juni 2013

Bunyi


Bunyi itu mengalun lembut tapi tegas
Sejak saat itu
Saat dirimu memulainya
Bunyi itu terus kembali
Setiap bunyi membawa pesan
Pesan biasa
Pesan serius
Pesan lucu
Bahkan....
Pesan konyol
Senja, malam, pagi, siang, sore, hingga kembali senja
Membiasakanku mendengarnya
Senang? Ya....
Seolah ada yang mengisi satu sisi hidupku
Kaget? Terlebih lagi.
Bukan aku terbiasa begini
Kemudian setelah itu tidak sama lagi
Bunyi itu tergerus waktu
Tidak sama lagi
Kembali pada titik awal
Tapi rasanya tidak pernah sama
Aku pernah mendengarnya
Bunyi itu pernah hadir
Dan kini pergi
Seucap andai terngiang
Andai bunyi itu tidak pernah hadir

Senin, 24 Juni 2013

Me And My Sisters Anniversary Wedding


Hari ini, 24 Juni 2013, satu tahun Mba Ratih dan Mas Anda telah mengikat janji. Tepatnya pada 24 Juni 2012 yang lalu.

Satu tahun pastilah masih terasa begitu istimewa. Awal pernikahan yang telah diuji dengan berbagai hal. Pernikahan tanpa pacaran dan kemudian kehilangan buah hati yang telah dinanti. 

Masih pendek usia pernikahan itu, ya masih belum terlalu banyak bergejolak tanpanya. Tapi setiap awal harus mampu dilewati dengan baik sebagai dasar pijakan. Sebagai tolakan untuk terus melangkah maju. A good memory to remainded someday.

Semoga senantiasa diberkahi, dilimpahi sakinah, mawaddah, warrahmah. Semakin baik keduanya.

Mas Anda 'n Mba Ratih

****

Sekian tentang ucapan dan do'anya, mari kita melipir ke sisi lain cerita ini dari sisi saya. Hehehehe....

Masih teringat setahun lalu rempong bin riweuhnya ngebantuin nikahannya mereka berdua ini. Kesana-kemari, dari mulai jadi sopir ampe nentuin menu catering. Yang mau nikahnya sibuk sendiri tuh. Ampe akhirnya saya ngerasa ga mau nikah buru-buru karena ga mau ngerasain capek yang sama. Puifh.... 

Tapi tenang aja..., rasa enggan itu hanya sesaat koq. Berganti tahun, bergantilah rasa itu. Lha wong capeknya juga udah ilang.

Saya ma mba Ratih usianya beda 1 tahun kurang sepekan. Sepekan kemudian mba Ratih akan genap berusia 1 tahun, lahirlah saya. Dekat sekali ya selisih usia kita berdua.

Kalau dipikir-pikir, idealnya sih..., menikahnya juga begitu. Selisih 1 tahun kurang sepekan. Tapi sudah terlambat. He.... Apalagi mau ngeduluin, udah ga mungkin.

Harus sedih ga ya? Ga lah.... Bahagia aja deh. Bahagia masih bisa menikmati banyak kesempatan yang mungkin nanti ga bisa dijelajahi lagi. ^^ 

Semuanya ga harus sama. Semuanya punya cerita sendiri. Semua pasti bahagia. Hihihihi.... Ini bukan kamuflase lho. Percaya deh !!!! ~,^ *tink*









Sepatu Baru Ibu

Ibu membeli sepatu olahraga baru. Sepatu berwarna biru unik dengan model yang tidak terlalu sporty.

Layaknya sepatu baru pasti bahannya masih belum luwes. Inilah yang selalu jadi masalah buat ibu. Ketidaknyamanan ketika memakai sepatu baru. Apalagi jika ukuran kedua kakinya tidak sama persis. Salah satu kaki akan terasa tidak nyaman.

Dan seperti biasa, karena ukuran kaki saya lebih pendek sekitar 0,5 cm, ibu sering meminta saya untuk memakai sepatunya untuk pertama kali hingga bahan sepatu tersebut jd luwes.

Begitupun dengan sepatu olahraga biru unik baru kepunyaan ibu. Bahannya masih terasa belum luwes. Maka dari itu, ibu langsung meminta saya untuk memakainya terlebih dahulu hingga lebih luwes bahannya.

Meskipun awalnya merasa ingin menolak karena pasti ketidaknyamanan itu ada. Tapi jadi kasian juga kalau ibu kesakitan kakinya ketika pertama kali memakainya. Setidaknya saya tidak akan merasa sesakit ibu ketika pertama memakainya. Ya karena kaki saya tidak sebesar kaki ibu.

Akhirnya dipakailah sepatu olahraga biru unik baru itu. Ya terasa sedikit kaku memang. Tapi saya berusaha cuek aja dan tetap memakainya berolahraga. Semakin lama, semakin aktif gerakan olahraga aerobiknya, semakin terasa sakit kaki kanan saya. Tapi berhubung rasa sakitnya biasa saja dan saya sedang semangat untuk olahraga, jadi saya tetap melanjutkan hingga akhir dengan semangat.

Dipakai saya saja masih sakit, apalagi dipakai ibu. Mungkin perlu beberapa kali pakai lagi. Ibu masih harus bersabar untuk memakai sepatu barunya. Semoga nanti ibu nyaman memakainya. InsyaAlllah ya bu. <3

Sepatu Olahraga Biru Unik